Tidak ada seorang anak yang mau mendapatkan kekerasan dari orang tuanya. Tetapi apa daya jika kekerasan itu selalu terjadi saat dikala orang tuanya selalu punya masalah. Hingga anaknya kerap kena kekerasan dari sang ibu.
Dengan kekerasan itu anak menjadi bertanya-tanya apakah orang tua anak itu sayang padanya? Karena seorang anak tidak adalah yang sempurna. Tidak luput dari kesalahan.
Anak itu selalu bertanya pada Tuhan "ya Tuhan apakah orang tua saya tidak sayang pada hamba?".
Anak pun punya hati. Anak yang selalu kena kekerasan dari orang tuanya akan selalu merasa hidupnya sendirian, minder dengan orang-orang bahkan anak itu akan KUPER (kurang pergaulan) dan sulit untuk berinteraksi oleh orang lain.
Andaikan orang tua bisa bersikap adil dan tidak mendidik dengan kekerasan mungkin saja anak itu akan lebih baik untuk bersikap dengan orang tuanya, teman-temannya bahkan kelingkungan yang disekitarnya.
Jeritan Hati
Sabtu, 18 Oktober 2014
Cinta Dalam Hati
Selasa, 14 Oktober 2014
ANAK ADALAH CERMINAN DARI ORANG TUA
Jika anak sering diperlakukan secara kasar oleh orang tuanya, maka otomatis sebagian sifat orang tuanya diserap keotak ke anak menjadi orang yang kasar.
Jika anak sering diperlakukan secara penuh kasih sayang oleh orang tuanha, maka otomatis anak akan menjadi orang yang lemah lembut.
Anak membutuhkan pelukan kasih sayang dari orang tua, disaat anak membutuhkan belaian dari orang tua yang dimana pelukan ayah dan ibu yang membuat anak menjadi lebih kuat.
Jika anak sering diperlakukan secara penuh kasih sayang oleh orang tuanha, maka otomatis anak akan menjadi orang yang lemah lembut.
Anak membutuhkan pelukan kasih sayang dari orang tua, disaat anak membutuhkan belaian dari orang tua yang dimana pelukan ayah dan ibu yang membuat anak menjadi lebih kuat.
CELOTEH ANAK
Orang tua itu harus selalu mengayomi anak-anaknya dan melindungi anak-anaknya.
Jika anak-anaknya punya salah tuntunlah anak-anaknya dengan kesabaran yang mereka miliki. Dengan kelembutan yang notabennya sebagai orang tua. Bukan saat anak salah selalu berkata kasar, dengan nada tinggi dan selalu menyalahkan anak. Memang anak selalu memiliki kesalahan, hanya saja bisa dibicarakan dengan baik-baik.
Mungkin saja saat kecilnya anaknya selalu melihat ayah dan ibunya bertengkar dengan nada tinggi, berkata kasar dan sikapnya menjadi negatif. Anak itu selalu melihat tingkah laku orang tuanya seperti apa dan bagaimana menyikapinya.
Anak yang selalu kasar, egois, berkata dengan suara tinggi itulah yang mereka lihat dari ayah dan ibunya. Mungkin ayah dan ibunya tidak pernah mengajarkan anaknya seperti itu. Tetapi apa yang mereka lihat dari sang ayah dan sang ibu yang tanpa disadarinya mengajarkanya berkata kasar, egois dan berkata dengan suara tinggi.
Anak yang selalu diajarkan tanpa kekerasan mungkin anak itu tidak akan berbuat ulah yang dimana anak itu akan selalu mendapatkan kasih sayang yang lembut.
Jika anak yang selalu diajari dengan kekerasan. Anak salah sedikit dipukul, dicubit, dijewer atau semacamnya. Diotak anak adalah orang tuanya tidak sayang padanya. Tetapi orang tua selalu bilang “kamu kalau gak dikerasin gak pernah bisa tau dan tidak akan pernah mau nurut”. Anak akan nurut jika dari orang tua dan anak ada toleransi, keterbukaan, kompromi, bicara dari hati ke hati. Jika tidak ada itu semua. Anak akan kerap berbuat negatif dan akan selalu berbuat yang diinginkan seorang anak. Bisa saja anaknya itu akan berbuat kriminal, terjun kedunia malam atau sebagainya.
Posisi orang tualah yang membentuk anak-anaknya dengan baik dan sikap yang baik.
Memang saya belum memiliki seorang anak, hanya saja saya sering sedih melihat anaknya selalu mendapatkan kekerasan dari orang tuanya. Contohnya saja, tidak bisa ngerjain soal saja anak kena pukul, cubit, jewer. Mengajari anak untuk belajar kan tidak perlu harus dengan kekerasan. Benar bukan?
Semoga suatu saat nanti saya memiliki anak bisa bersikap adil, tidak dengan kekerasan untuk medidik anak-anak kelak dan ada kompromi antara saya dengan anak-anak saya.
Jika anak-anaknya punya salah tuntunlah anak-anaknya dengan kesabaran yang mereka miliki. Dengan kelembutan yang notabennya sebagai orang tua. Bukan saat anak salah selalu berkata kasar, dengan nada tinggi dan selalu menyalahkan anak. Memang anak selalu memiliki kesalahan, hanya saja bisa dibicarakan dengan baik-baik.
Mungkin saja saat kecilnya anaknya selalu melihat ayah dan ibunya bertengkar dengan nada tinggi, berkata kasar dan sikapnya menjadi negatif. Anak itu selalu melihat tingkah laku orang tuanya seperti apa dan bagaimana menyikapinya.
Anak yang selalu kasar, egois, berkata dengan suara tinggi itulah yang mereka lihat dari ayah dan ibunya. Mungkin ayah dan ibunya tidak pernah mengajarkan anaknya seperti itu. Tetapi apa yang mereka lihat dari sang ayah dan sang ibu yang tanpa disadarinya mengajarkanya berkata kasar, egois dan berkata dengan suara tinggi.
Anak yang selalu diajarkan tanpa kekerasan mungkin anak itu tidak akan berbuat ulah yang dimana anak itu akan selalu mendapatkan kasih sayang yang lembut.
Jika anak yang selalu diajari dengan kekerasan. Anak salah sedikit dipukul, dicubit, dijewer atau semacamnya. Diotak anak adalah orang tuanya tidak sayang padanya. Tetapi orang tua selalu bilang “kamu kalau gak dikerasin gak pernah bisa tau dan tidak akan pernah mau nurut”. Anak akan nurut jika dari orang tua dan anak ada toleransi, keterbukaan, kompromi, bicara dari hati ke hati. Jika tidak ada itu semua. Anak akan kerap berbuat negatif dan akan selalu berbuat yang diinginkan seorang anak. Bisa saja anaknya itu akan berbuat kriminal, terjun kedunia malam atau sebagainya.
Posisi orang tualah yang membentuk anak-anaknya dengan baik dan sikap yang baik.
Memang saya belum memiliki seorang anak, hanya saja saya sering sedih melihat anaknya selalu mendapatkan kekerasan dari orang tuanya. Contohnya saja, tidak bisa ngerjain soal saja anak kena pukul, cubit, jewer. Mengajari anak untuk belajar kan tidak perlu harus dengan kekerasan. Benar bukan?
Semoga suatu saat nanti saya memiliki anak bisa bersikap adil, tidak dengan kekerasan untuk medidik anak-anak kelak dan ada kompromi antara saya dengan anak-anak saya.
Langganan:
Postingan (Atom)